Check Out Our Galleries:
Showing posts with label Literature. Show all posts
Showing posts with label Literature. Show all posts

Sunday, September 26, 2010

HERE ARE THE STEPS OF HOW I MADE THIS SHAKIRA…

HOPE WILL USEFULL FOR U.

[ VERSI BAHASA INDONESIA KLIK DISINI! ]

BY TONI AGUSTIAN | POPBOXWPAP.BLOGSPOT.COM
The Requirements: COREL DRAW, I SUGGEST COREL DRAW X5 OR AT LEAST X4 WHICH IS THE SMART FILL TOOL ARE ALREADY AVAILABLE + WITH THE PICKER TOOL IN IT

step 000

First, choose the photo you want and bring it to the Corel Draw window, you can use import or just drag the picture to Corel’s window. resize it so fit to the paper template. adjust the brightness and contras or anything you want to make this picture better. then after you done with all those stuff, lock this picture by “right click –> lock”… and you ready for the next step.
to unlock just right click the locked image and click unlock.
step 001
freehandtoolusing the “freehand tool“ make the connected line on every different aspect of the photo. those aspect are [ brightness, the colors differences, saturations, etc..] or you can improve the line by yourself. those lines must be connected because we’ll fill them with the color using the paint bucket or the smart fill tool. if not then the color will leak to the neighborhood area. to avoid leaking press “ALT+Z” its a shortcut to “Snap to Object”, so whenever you got close to a point it’ll be snapped. press that shortcut again to turn it off.
try this step on a hardest area first like the eyes. and enough with that part for a while to take the next step….
step 001 #3
smartfilltool in this steps we’ll use so many actions using this fancy “Smart Fill Tool” from Corel. okay, now click on this tool –> then click on the color box on the property bar  and click color picker, next pick the color from the area you already blocked with lines, take the colorpickmost dominant color in that area. after picking the color the tool will change automatically to a bucket fill tool, so click it on that are where you pick that color and viola… if its not leak than you’ve made it to fill a block.
after you’ve done creating all the blocks using smart fill tool then the next step is to delete all the curve lines you’ve made on the earlier step, it’ll be hard to select it one by one, I have a much better way to select it all:
Click edit menu –> Find and Replace –> Find Objects… then the Find Objects Dialog appear. click begin to search and next –> click the Fill tab which is on the top of the dialog box –> Pick No Fill and  press the next –> finish button –> now click Find All… and program will automatically find all the objects without fill.
after all objects are selected you delete them all at once by pressing delete on the keyboard.

SHAKIRA WAKA-WAKA 001 #4 CDR 10 small
after you’ve done picking and pouring the colors to all the blocks you’ve made. than the next step is the hardest one. its “changing the colors”. first, duplicate the picture you’ve made and make it a bitmap so it won’t be a burden to your processor. why duplicate?… read next!.. in this step I can’t explain too much. all you have to do are improvise, choose the colors whatever you want as long as still in the basic lightness area. what i meant is… the shadow color remain the shadow, the highlight color remain bright, and so on… keep coloring while still watching the duplicated picture from the previous step so you won’t be missed. do it till done, I suggest you to pick the rebel colors to push more pop art effect to this picture. try not to use the body natural colors like skin colors. Otherwise it won’t called a pop art.
the final step is making the nice layout to the picture you’ve made like placing a backgrounds, text or anything you want as long as it don’t break the beauty of the image you’ve  made. I suggest you use the simple font to combine with this WPAP style.
okay, I wish this simple tutorial will help! :)
if anything goes wrong or you face against the wall [ stuck]  then you can contact me here of by my facebook. just click me toni agustian and ask me there!
TUTORIAL BY : TONI AGUSTIAN DATE CREATED : 2010-06-22 SOFTWARE : COREL DRAW X5 PORTABLE  

MORE TUTORIALS:
ALL TUTORIALS IN POPBOX
TUTORIAL WPAP FROM MPANG99

Friday, September 3, 2010


Wedha’s Pop Art Portrait di Era Industri Seni
Oleh Agus Dermawan T.
Kritikus, penulis buku-buku seni rupa.


small white                       Dalam sebuah diskusi di Taman Ismail Marzuki tahun 1981, pelukis dan penari Bagong Kussudiardja  mengatakan bahwa seorang seniman bisa dianggap besar apabila karyanya menghasilkan “isme”. Yang dimaksud “isme” adalah pemahaman yang diberangkatkan dari keyakinan wacana dan pemikiran. Sebuah “isme” biasanya akan melahirkan pengikut. Dan pengikut akan memunculkan sebuah aliran. Sedangkan sebuah aliran, pada waktunya akan melahirkan sejumlah keyakinan wacana dan pemikiran baru. Keyakinan wacana dan pemikiran baru ini akan menghasilkan sub isme, yang dikemudian hari mungkin akan jadi isme baru.

                       Fakta apa yang dikatakan Bagong Kussudiardja itu memang tercatat dalam sejarah. Affandi adalah pelukis besar, yang kemudian melahirkan Affandisme. Bahkan konon sebagian pelukis akan melewati gaya Affandi sebelum mereka menemukan gayanya sendiri. Begitu pula begitu pula Claude Monet dengan impresionismenya, Picasso dengan kubismenya, Salvador Dali dengan surealismenya, Yue Minjun dengan realisme sinisnya, Basoeki Abdullah dengan realisme romantiknya. Ahmad Sadai dengan abstrak dan abstraksinya. Atau Bagong sendiri dengan koreografi Nusantara-Martha (Graham)nya.

                       Lalu apabila Wedha dengan “pop art portrait”nya kini melahirkan isme, -sebut saja “Wedhaisme”- , apakah sudah waktunya perupa Wedha disebut seniman besar? Tentu kita tidak harus terburu-buru. Meskipun fakta telah menunjukkan bahwa gaya lukisan Wedha sejak dirilis lewat pameran tunggal pada 2008 silam telah melahirkan pengikut begitu banyak. Namun apabila istilah “besar” belum waktunya disandang, maka sebutan “populer” mungkin lebih tepat untuk dikenakan.

                      Keberhasilan Wedha ini cerminan dari upaya perupa kontemporer yang pandai memanfaatkan teknologi informasi modern untuk naik ke langit pembicaraan. Visual karya-karya Wedha yang apik, dengan tentu diimbuh presentasi wacana dan pemikiran, dan dibonusi teknik-teknik pembuatan, diperkenalkan di antaranya lewat FaceBook. Dasi sini kemudian lahir sekumpulan penggemar karya-karya Wedha, yang awalnya dibentuk dalam komunitas deviantart. Yang menarik, dalam komunitas ini Wedha secarta blak-blakan mengajarkan teknik pembuatan karyanya, sehingga bisa diikuti oleh siapa pun yang ingin bergabung dalam barisan Wedha’s Pop Art Portrait ( WPAP).

Sunday, July 11, 2010

WARNA DALAM WPAP

BY WEDHA | 2010-07-07

image

Selama ini setiap kita melihat karya seni rupa pop art, selalu saja yang tersaji adalah karya yang penuh warna meriah, sehingga wajar bila kemudian orang beranggapan bahwa seni rupa po art itu harus warna-warni. Bahkan kemudian imej beragam warna ini dianggap sebagai ciri utama dari seni rupa pop art. Nggak terlalu salah memang, tapi saya kira juga kurang pas betul.
Dalam silsilah seni rupa, seni pop art disebut sebagai keturunan dari seni rupa modern. Orang tua kandungnya adalah dadaisme. Ini menurut Soedarso SP dalam bukunya, Sejarah Perkembangan Seni Rupa Modern. Batasan seni rupa modern sendiri begitu rumit dan banyak. Yang sering mengacaukan adalah adanya kata modern di situ. Banyak yang keliru menganggap bahwa karya seni rupa yang dibuat di jaman modern, otomatis disebut seni rupa modern. Dari banyak dan rumitnya batasan sebagai cap seni rupa modern, akhirnya para ahli sepakat bahwa faktor kreatifitaslah yang mutlak harus ada pada seni rupa modern.

Saturday, June 19, 2010

art_sole_01.jpg

Book Review:

Art & Sole: Contemporary Sneaker Art & Design, by Intercity

THIS IS AN ARTICLE FROM CORE77
Let me disclaim one thing before I get into the beautiful details of reviewing Art & Sole: Contemporary Sneaker Art & Design; I'm profoundly unhip. Even though I visited my grandmother in NYC on a yearly basis and spent a few years of grade school in Asia, I spent high school in Nebraska, so my insecure trend-following formative years were a world away from city graffiti or Tokyo fashion. That said, Intercity's Art & Sole blew me away. For those of you like Turtle on Entourage who relentlessly follow tiny variations (and limited editions) of sports-themed footwear guaranteed never to see a basketball court, you have my deepest apologies if I confuse an Air Max 90 for a 95. But for the rest of us, Art & Sole should be an eye-opening visit to the wild nexus between commerce, guerilla art, mass production and customization that is limited edition sneaker design.

Thursday, June 10, 2010

Seni Pop adalah sebuah gerakan seni yang muncul pada tahun 1950 pertengahan di Britania dan di akhir 1950-an di Amerika Serikat. Pop seni menantang tradisi dengan menegaskan bahwa menggunakan artis komoditas visual yang diproduksi secara massal budaya populer yang berbatasan dengan perspektif seni rupa.

Wednesday, June 9, 2010




Embrio Gaya Wedha
Oleh : Wedha
 
Karya-karya awal gaya ini sudah didominasi oleh bidang-bidang geometrik yang saya bentuk dengan goresan bebas (free hand stroke) dan menggunakan medium crayon. Pewarnaannya sudah meninggalkan pakem warna kulit manusia, juga dengan stroke bebas. Pembidangan pada karya ini mengikuti intuisi saya pada saat saya mengamati wajah seseorang (biasanya figur-figur terkenal di bidangnya masing-masing), melalui fotonya. Saya berusaha keras menangkap ekspresi figur yang saya hadapi lewat beberapa foto.

Di dalam proses manual saya menemukan cara yang mudah dan semakin mudah. Tapi semakin mudah cara yang saya temukan, saya semakin ragu untuk mengatakan bahwa apa yang saya hasilkan ini cukup bernilai untuk disebut sebagai karya seni. Walaupun pada kenyataannya karya saya ini mulai digemari pembaca, bahkan pada beberapa kesempatan banyak musisi dunia mengagumi karya saya. Grup Scorpion, Metallica atau James Ingram adalah beberapa nama yang masih saya ingat, tetap saja saya menganggapnya hanya sebagai karya yang paling mudah membuatnya untuk memenuhi tugas saya sebagai illustrator.

Oleh: Wedha
gaya ini saya mulai pada sekitar tahun 1990-1991. Memasuki usia 40 tahun, terlahir 10 Maret 1951, ketika itu saya sudah merasakan menurunnya fungsi mata saya. Ditambah lagi sebagai seorang yang kurang sekali mengindahkan gaya hidup sehat, saya mulai merasa terlalu cepat lelah. Kendala fisik itu mulai mengganggu setiap kali saya harus menyelesaikan gambar, apalagi gambar sosok manusia realis yang menurut saya bertingkat kesulitan paling tinggi. Memilih dan mencampur warna menjadi hal yang menyulitkan. Kemiripan warna kulit manusia, kehalusan goresan, menjadi sesuatu yang mahal buat saya.
Dalam keadaan seperti itulah kemudian saya mulai memikirkan cara melukis atau menggambar wajah manusia dengan cara yang lebih mudah. Cara yang memungkinkan saya menghindarkan diri dari keharusan mengolah warna kulit manusia yang sulit, cara tanpa tuntutan ketrampilan yang memadai untuk memulas.



Saya yang sejak masa sekolah sangat menyukai pelajaran ilmu ukur ruang (stereometri), mulai mengutik-utik masalah titik, garis dan bidang. Mulailah saya membayangkan wajah manusia sebagai kumpulan bidang-bidang datar yang dibentuk oleh garis-garis imajiner.


Cukup panjang proses yang saya lalui sebelum mendapatkan bentuk dan cara membuatnya seperti yang sekarang. Tapi perjalanan itu saya tapaki dengan antusias karena semakin lama perjalanan itu semakin memberi keyakinan akan tercapainya apa yang saya inginkan. Cara memprosesnya juga mengalami perubahan yang signifikan. Cara manual dan cara yang menggunakan komputer. Perlu diketahui, pada waktu itu sekitar tahun 1990-1991, komputerisasi belum merata menjamah majalah tempat saya berkarya. Saya sendiri baru mengenal komputer sekitar tahun 1998.