Check Out Our Galleries:
Showing posts with label Story. Show all posts
Showing posts with label Story. Show all posts

Friday, September 3, 2010


Wedha’s Pop Art Portrait di Era Industri Seni
Oleh Agus Dermawan T.
Kritikus, penulis buku-buku seni rupa.


small white                       Dalam sebuah diskusi di Taman Ismail Marzuki tahun 1981, pelukis dan penari Bagong Kussudiardja  mengatakan bahwa seorang seniman bisa dianggap besar apabila karyanya menghasilkan “isme”. Yang dimaksud “isme” adalah pemahaman yang diberangkatkan dari keyakinan wacana dan pemikiran. Sebuah “isme” biasanya akan melahirkan pengikut. Dan pengikut akan memunculkan sebuah aliran. Sedangkan sebuah aliran, pada waktunya akan melahirkan sejumlah keyakinan wacana dan pemikiran baru. Keyakinan wacana dan pemikiran baru ini akan menghasilkan sub isme, yang dikemudian hari mungkin akan jadi isme baru.

                       Fakta apa yang dikatakan Bagong Kussudiardja itu memang tercatat dalam sejarah. Affandi adalah pelukis besar, yang kemudian melahirkan Affandisme. Bahkan konon sebagian pelukis akan melewati gaya Affandi sebelum mereka menemukan gayanya sendiri. Begitu pula begitu pula Claude Monet dengan impresionismenya, Picasso dengan kubismenya, Salvador Dali dengan surealismenya, Yue Minjun dengan realisme sinisnya, Basoeki Abdullah dengan realisme romantiknya. Ahmad Sadai dengan abstrak dan abstraksinya. Atau Bagong sendiri dengan koreografi Nusantara-Martha (Graham)nya.

                       Lalu apabila Wedha dengan “pop art portrait”nya kini melahirkan isme, -sebut saja “Wedhaisme”- , apakah sudah waktunya perupa Wedha disebut seniman besar? Tentu kita tidak harus terburu-buru. Meskipun fakta telah menunjukkan bahwa gaya lukisan Wedha sejak dirilis lewat pameran tunggal pada 2008 silam telah melahirkan pengikut begitu banyak. Namun apabila istilah “besar” belum waktunya disandang, maka sebutan “populer” mungkin lebih tepat untuk dikenakan.

                      Keberhasilan Wedha ini cerminan dari upaya perupa kontemporer yang pandai memanfaatkan teknologi informasi modern untuk naik ke langit pembicaraan. Visual karya-karya Wedha yang apik, dengan tentu diimbuh presentasi wacana dan pemikiran, dan dibonusi teknik-teknik pembuatan, diperkenalkan di antaranya lewat FaceBook. Dasi sini kemudian lahir sekumpulan penggemar karya-karya Wedha, yang awalnya dibentuk dalam komunitas deviantart. Yang menarik, dalam komunitas ini Wedha secarta blak-blakan mengajarkan teknik pembuatan karyanya, sehingga bisa diikuti oleh siapa pun yang ingin bergabung dalam barisan Wedha’s Pop Art Portrait ( WPAP).

Wednesday, June 9, 2010




Embrio Gaya Wedha
Oleh : Wedha
 
Karya-karya awal gaya ini sudah didominasi oleh bidang-bidang geometrik yang saya bentuk dengan goresan bebas (free hand stroke) dan menggunakan medium crayon. Pewarnaannya sudah meninggalkan pakem warna kulit manusia, juga dengan stroke bebas. Pembidangan pada karya ini mengikuti intuisi saya pada saat saya mengamati wajah seseorang (biasanya figur-figur terkenal di bidangnya masing-masing), melalui fotonya. Saya berusaha keras menangkap ekspresi figur yang saya hadapi lewat beberapa foto.

Di dalam proses manual saya menemukan cara yang mudah dan semakin mudah. Tapi semakin mudah cara yang saya temukan, saya semakin ragu untuk mengatakan bahwa apa yang saya hasilkan ini cukup bernilai untuk disebut sebagai karya seni. Walaupun pada kenyataannya karya saya ini mulai digemari pembaca, bahkan pada beberapa kesempatan banyak musisi dunia mengagumi karya saya. Grup Scorpion, Metallica atau James Ingram adalah beberapa nama yang masih saya ingat, tetap saja saya menganggapnya hanya sebagai karya yang paling mudah membuatnya untuk memenuhi tugas saya sebagai illustrator.

Oleh: Wedha
gaya ini saya mulai pada sekitar tahun 1990-1991. Memasuki usia 40 tahun, terlahir 10 Maret 1951, ketika itu saya sudah merasakan menurunnya fungsi mata saya. Ditambah lagi sebagai seorang yang kurang sekali mengindahkan gaya hidup sehat, saya mulai merasa terlalu cepat lelah. Kendala fisik itu mulai mengganggu setiap kali saya harus menyelesaikan gambar, apalagi gambar sosok manusia realis yang menurut saya bertingkat kesulitan paling tinggi. Memilih dan mencampur warna menjadi hal yang menyulitkan. Kemiripan warna kulit manusia, kehalusan goresan, menjadi sesuatu yang mahal buat saya.
Dalam keadaan seperti itulah kemudian saya mulai memikirkan cara melukis atau menggambar wajah manusia dengan cara yang lebih mudah. Cara yang memungkinkan saya menghindarkan diri dari keharusan mengolah warna kulit manusia yang sulit, cara tanpa tuntutan ketrampilan yang memadai untuk memulas.



Saya yang sejak masa sekolah sangat menyukai pelajaran ilmu ukur ruang (stereometri), mulai mengutik-utik masalah titik, garis dan bidang. Mulailah saya membayangkan wajah manusia sebagai kumpulan bidang-bidang datar yang dibentuk oleh garis-garis imajiner.


Cukup panjang proses yang saya lalui sebelum mendapatkan bentuk dan cara membuatnya seperti yang sekarang. Tapi perjalanan itu saya tapaki dengan antusias karena semakin lama perjalanan itu semakin memberi keyakinan akan tercapainya apa yang saya inginkan. Cara memprosesnya juga mengalami perubahan yang signifikan. Cara manual dan cara yang menggunakan komputer. Perlu diketahui, pada waktu itu sekitar tahun 1990-1991, komputerisasi belum merata menjamah majalah tempat saya berkarya. Saya sendiri baru mengenal komputer sekitar tahun 1998.